Khutbah Pertama
ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي جَعَلَ ٱلتَّقْوَى سَبَبًا لِزِيَادَةِ ٱلْخَيْرَاتِ، وَٱلِاسْتِغْفَارَ مِفْتَاحًا لِدَفْعِ ٱلْمُصِيبَاتِ وَٱلْمَكْرُوهَاتِ، وَخَتَمَ عَلَى ٱلْمَعَاصِي بِٱلذُّلِّ وَٱلْهَوَانِ، وَقَرَنَهَا بِٱلْمِحَنِ وَٱلْحِرْمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ، رَبُّ ٱلْبَرَكَاتِ وَرَافِعُ ٱلرَّحَمَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، دَاعِي ٱلنَّاسِ إِلَى سُبُلِ ٱلنَّجَاةِ، وَهَادِيهِمْ إِلَى سُبُلِ ٱلسَّعَادَةِ وَٱلْهِدَايَاتِ، صَلَّى ٱللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَٱقْتَفَى آثَارَهُمْ إِلَى يَوْمِ لِقَائِهِ.
أَمَّا بَعْدُ،
Ma’asyirol Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…
Dari mimbar yang mulia ini, khatib tak henti-hentinya mengingatkan diri pribadi dan jama’ah sekalian untuk bertakwa dan terus beristigfar memohon ampunan kepada Allah Ta’ala, karena Allah tidak akan mengazab penduduk suatu negeri selama mereka beristigfar.
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ
“Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)
Sidang Jama’ah Jum’at yang Allah muliakan…
Sungguh zina termasuk salah satu perbuatan paling merusak, karena dampaknya sangat besar bagi kehidupan manusia. Ia bertentangan langsung dengan tatanan sosial masyarakat yang sehat, yang seharusnya menjaga nasab, melindungi kehormatan, menjaga kesucian diri, serta mencegah permusuhan dan kebencian yang merusak hubungan antarmanusia.
Bayangkan jika setiap orang bebas berzina dengan istri orang lain, atau anak perempuannya, saudarinya, bahkan ibunya, maka tidak ada lagi rasa aman, tidak ada lagi kehormatan, dan tatanan dunia pun hancur berantakan.
Karena besarnya kerusakan ini, zina menempati urutan setelah pembunuhan dalam daftar dosa-dosa besar.
Oleh karena itu, di dalam Al-Qur’an dan Hadits, dosa zina disandingkan dengan pembunuhan dan kesyirikan.
Allah berfirman:
وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ يَلۡقَ أَثَامٗا (٦٨) يُضَٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ مُهَانًا
“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. Akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” QS. Al-Furqan: 68)
Dalam ayat tersebut Allah menyetarakan zina dengan kesyirikan dan pembunuhan, dengan ancaman azab berlipat dan kekekalan dalam kehinaan.
Dalam ayat lain, Allah memperingatkan:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan jangan mendekati zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. Al-Isra: 32)
“Kekejian” dan kebusukan perbuatan zina ini bahkan tertanam dalam akal manusia dan naluri hewan.
Imam al-Bukhari menyebutkan dalam Shahih-nya, dari ‘Amr bin Maimun al-Audi, ia berkata:
َأَيْتُ فِي الجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْهَا قِرَدَةٌ قَدْ زَنَتْ، فَرَجَمُوهَا، فَرَجَمْتُهَا مَعَهُمْ.
“Aku melihat pada masa Jahiliyah seekor kera betina yang telah berzina, lalu para kera berkumpul di sekitarnya dan melemparinya (dengan batu), maka aku pun ikut melemparinya bersama mereka.” (HR. Bukhari, no. 3849)
Kemudian Allah menyebut bahwa zina adalah “seburuk-buruk jalan”. Sebab, zina membawa pelakunya menuju kebinasaan, kehancuran, dan kemiskinan di dunia.
Orang yang terjerumus ke dalam zina akan merosot secara mental dan kehilangan harga diri. Hal itu memengaruhi produktivitasnya sebagai manusia, dan sering kali membuatnya merasa dikucilkan, baik oleh keluarga, tetangga, maupun lingkungan sekitarnya.
Lebih dari itu, zina adalah jalan menuju azab, kehinaan, dan siksaan di akhirat. Maka siapa pun yang menjaga diri darinya, sesungguhnya ia sedang menjaga kehormatan, keselamatan, dan masa depannya di dunia dan akhirat.
Ummatal Islam…
Jika seorang wanita berzina, ia bukan hanya merusak dirinya sendiri, tapi juga membawa aib besar bagi keluarganya, suaminya, dan orang-orang terdekatnya. Ia menjatuhkan harga diri mereka di mata masyarakat.
Jika ia hamil dari hasil zina lalu membunuh anaknya, berarti ia telah menggabungkan dua dosa besar sekaligus: zina dan pembunuhan.
Namun jika ia malah menisbatkan anak itu kepada suaminya—padahal bukan anaknya—maka itu lebih berbahaya lagi. Artinya, ia telah memasukkan orang asing ke dalam nasab keluarga, yang kelak bisa mewarisi harta mereka, tinggal bersama mereka, masuk ke rumah mereka, melihat aurat mereka, bahkan mengaku sebagai bagian dari keluarga, padahal anak itu adalah orang asing.
Belum lagi kerusakan-kerusakan sosial dan moral lain yang ditimbulkan akibat seorang wanita yang berzina.
Adapun jika zina dilakukan oleh laki-laki, maka dampaknya pun tak kalah besar. Ia mengacaukan nasab, merusak kehormatan wanita baik-baik, dan menjatuhkan mereka ke dalam kehinaan serta kerusakan.
Zina bukan hanya merusak urusan dunia, tapi juga menghancurkan agama.
Ia menyebabkan banyak kubur di alam barzakh dipenuhi azab, dan api neraka menyala di akhirat karena dosa ini.
Betapa banyak aturan Allah dilanggar, hak-hak diabaikan, serta kezhaliman yang terjadi, semua berawal dari zina.
Ikhwatal Iman…
Zina menyebabkan kemiskinan, memperpendek umur, menggelapkan wajah pelakunya, dan menjadikannya hina di mata manusia.
Zina juga merusak hati pelakunya, membuatnya tersiksa secara batin, gelisah, takut, dan penuh kesedihan.
Bahkan, ia bisa merasa hampa dan batinnya terlebih dahulu mati, sebelum ajal benar-benar menjemputnya.
Zina menjauhkan pelakunya dari para malaikat, dan mendekatkannya kepada setan.
Itulah sebabnya, tidak ada kerusakan yang lebih besar setelah pembunuhan, selain kerusakan yang ditimbulkan oleh zina.
Karena itulah syariat menetapkan hukuman paling berat bagi pelaku zina muhshan (yang sudah menikah), yaitu hukuman mati dengan cara yang sangat keras, yakni dirajam hingga mati.
Saking besarnya kehinaan perbuatan ini Ma’asyiral Muslimin… Seorang suami masih bisa menahan kesedihan jika mendengar istrinya terbunuh.
Tapi jika ia mendengar istrinya telah berzina, itu jauh lebih menyakitkan, karena menyentuh kehormatan dan harga dirinya yang paling dalam.
Ikhwatii fiddiin rahimani wa rahimakumullah…
Allah juga menegaskan bahwa menjaga kehormatan kemaluan adalah syarat utama kebahagiaan dan keberuntungan bagi orang beriman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang beriman.”
Di antara kriteria orang beriman yang beruntung adalah:
وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ
“Dan orang yang memelihara kemaluannya.”
إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ
“Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.”
فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَـٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
“Barang siapa mencari selain itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mu’minun: 1, 6-7)
Maka bisa dipahami bahwa orang yang tidak menjaga kehormatan kemaluannya adalah orang yang tidak beruntung, dan ia tercela, dan tergolong orang zhalim yang melampaui batas. Wal’iyadzu billah.
Allah ‘Azza wa Jalla juga memerintahkan Nabi ﷺ agar menyuruh orang beriman untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan mereka, serta mengingatkan bahwa Allah mengetahui apa yang mereka perbuat.
قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)
Begitupula untuk para wanita:
وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 31)
Dan karena awal dari dosa besar ini bermula dari pandangan mata, maka Allah pun memerintahkan untuk menundukkan pandangan sebelum menjaga kemaluan.
Sebab kebanyakan kejadian yang sudah-sudah bermula dari satu pandangan, sebagaimana api besar pun bermula dari percikan kecil.
Awalnya hanya satu pandangan, lalu muncul lintasan hati, lalu melangkah mendekat, hingga akhirnya terjatuh dalam dosa besar.
Maka, barang siapa menjaga empat perkara ini, maka ia telah menjaga agamanya:
1. Pandangan mata
2. Lintasan pikiran
3. Ucapan lisan
4. Langkah kaki
Sudah seyogianya seorang hamba bertindak sebagai penjaga bagi dirinya sendiri di empat pintu ini. Ia harus selalu berjaga dan menjaga pertahanan di celah-celah ini, karena dari sanalah musuh masuk, lalu merusak isi rumah dan menghancurkan segalanya sampai tak tersisa sedikit pun.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إنَّ اللَّهَ كَتَبَ علَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنا، أدْرَكَ ذلكَ لا مَحالَةَ، فَزِنا العَيْنِ النَّظَرُ، وزِنا اللِّسانِ المَنْطِقُ، والنَّفْسُ تَمَنَّى وتَشْتَهِي، والفَرْجُ يُصَدِّقُ ذلكَ كُلَّهُ ويُكَذِّبُهُ.
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi anak Adam bagian dari zina yang pasti akan mengenainya, tidak bisa dihindari. Zina mata adalah melihat, zina lisan adalah berbicara, jiwa menginginkan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang akan membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (HR. Bukhari, no. 6243 dan Muslim, no. 2657)
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنْ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْعَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي أَظْهَرَ آثَارَ طَاعَتِهِ بَرَكَةً وَنَمَاءً، وَأَنْزَلَ عُقُوبَاتِ مَعْصِيَتِهِ خِزْيًا وَبَلَاءً، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ٱلْكَرِيمُ فِي عَطَائِهِ، ٱلشَّدِيدُ فِي ٱنْتِقَامِهِ وَقَضَائِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَفْوَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ، وَمُخْتَارُهُ مِنْ أَوْلِيَائِهِ، صَلَّى ٱللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى دَرْبِهِمْ وَٱقْتَفَى خُطَاهُمْ إِلَىٰ يَوْمِ لِقَائِهِ.
أَمَّا بَعْدُ،
Ma’asyirol Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…
Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, karena dengan bertakwa, niscaya amal ibadah kita akan membaik, dan dosa kita akan terampuni. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (٧٠) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah meraih kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Sidang Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…
Rasulullah ﷺ pernah ditanya:
مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟
“Apa yang paling banyak menyeret orang ke neraka?”
Beliau bersabda:
الْفَمُ وَالْفَرْجُ
“Dua rongga: mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi, no. 2004, Ibnu Majah, no. 4246, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani)
Di antara yang Nabi ﷺ sampaikan saat khutbah shalat gerhana adalah sabda beliau:
َيَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، إِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَغْيَرَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ أَمَتُهُ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ، لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
“Wahai umat Muhammad! Tidak ada seorang pun yang lebih besar cemburunya daripada Allah ‘azza wa jalla jika hamba-Nya atau hamba sahaya-Nya berzina. Wahai umat Muhammad! Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Nasa’i, no. 1500)
Disebutkannya dosa besar ini (zina) secara khusus dalam khutbah shalat gerhana menyimpan rahasia yang indah bagi siapa saja yang mau merenungkannya.
Karena gerhana adalah tanda kemurkaan Allah, dan munculnya zina adalah salah satu sebab terbesar murka itu turun.
Ummatal Islam…
Sesungguhnya munculnya zina secara terang-terangan merupakan tanda kehancuran dunia. Ia adalah salah satu tanda besar dari dekatnya Hari Kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda:
مِن أَشْرَاطِ السَّاعَةِ: أَنْ يُرْفَعَ العِلْمُ، وَيَظْهَرَ الجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا
“Di antara tanda-tanda Kiamat adalah: ilmu diangkat, kebodohan merajalela, khamr diminum, zina menyebar.” (HR. Bukhari, no. 80-81, dan Muslim, no. 2671)
Kaum Muslimin yang Allah muliakan…
Termasuk ketetapan Allah bagi makhluk-Nya adalah: Ketika zina muncul secara terang-terangan, maka Allah pun murka. Dan ketika kemurkaan-Nya telah memuncak, niscaya akan turun akibatnya di muka bumi berupa azab dan kehancuran.
Abdullah bin Mas‘ud berkata:
ما ظَهَرَ الرِّبَا وَالزِّنَا في قَرْيَةٍ، إِلَّا أَذِنَ اللهُ بِهَلَاكِهَا.
“Tidaklah riba dan zina tampak di suatu negeri, kecuali pasti Allah mengizinkan kehancuran atas negeri itu.” (Tafsir ath-Thabari 15/107)
أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهُ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمِنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًاً مُطْمَئِنًا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ ٱقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ ٱلْيَقِينِ مَا يُهَوِّنُ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ ٱلدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَٱجْعَلْهُ ٱلْوَارِثَ مِنَّا، وَٱجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَىٰ مَنْ ظَلَمَنَا، وَٱنْصُرْنَا عَلَىٰ مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ ٱلدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَجَنِّبْهُمْ بِطَانَةَ السُّوءِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ ٱلِلَّهَ يَأْۡمُرُ بِٱلِۡعَدْۡلِ وَٱلِۡإِحْۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلِۡقُرْۡبَىٰ وَيَنْۡهَىَٰ عَنِ ٱلِۡفَحْۡشَآءِ وَٱلِۡمُنْكَرِ وَٱلْبَغٍّۡيِۚ يَعِظُكُمْۡ لَعَلَّكُمْۡ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ يُذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلِذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ..
(Terinspirasi dari nasehat yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 345-348, 376-380)





