Khutbah ‘Idul Fitri: Kembali ke Pelukannya

Khutbah Pertama

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ (2x)

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ.

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي رَدَّنَا بَعْدَ ٱلتِّيهِ إِلَى ٱلْفِطْرَةِ، وَجَمَعَنَا بَعْدَ ٱلْفُرْقَةِ عَلَى ٱلطَّاعَةِ وَٱلْمَغْفِرَةِ، وَجَعَلَ لَنَا فِي بِرِّ ٱلْوَالِدَيْنِ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ ٱلْجَنَّةِ مُيَسَّرًا مُيَسَّرَةً.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، أَمَرَ بِٱلْإِحْسَانِ إِلَى ٱلْوَالِدَيْنِ، وَجَعَلَ شُكْرَهُ مَقْرُونًا بِشُكْرِهِمَا فِي آيِ ٱلْكِتَابِ ٱلْمُبِينِ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَبَرُّ ٱلنَّاسِ بِوَالِدَيْهِ، وَأَرْحَمُهُمْ بِأُمَّتِهِ، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ ٱلدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mukminin…

Di hari yang fitri ini, langit dan bumi bergetar oleh takbir. Nafas kita sesak oleh haru, dan mata kita basah oleh syukur. Ramadhan telah melipat sajadahnya, meninggalkan kita dengan satu pertanyaan besar: Ke mana kita akan kembali?

Fitri sering kita maknai sebagai “Kembali ke Fitrah”, sebuah perjalanan pulang menuju titik suci di mana ruh kita kembali jernih.

Namun, tahukah kita, Ummatal Islam, bahwa kesucian itu tidak akan pernah sempurna jika pintu menuju ridha-Nya masih tertutup rapat? Dan pintu itu, kuncinya tidak berada di langit, melainkan ada pada satu pelukan paling tulus yang pernah mendekapmu saat engkau pertama kali melihat dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ.

“Ridha Allah bergantung pada rida orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi, no. 1899)

Jamaah Shalat Id yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita merayakan kemenangan. Kita mengenakan pakaian terbaik, menyantap hidangan terlezat. Namun, di balik keriuhan ini, mari sejenak kita menoleh ke belakang. Ke sebuah masa di mana kita bukanlah siapa-siapa.
Pernahkah kita membayangkan kepayahan yang tak berujung yang dirasakan oleh sosok tatkala mengandung kita?

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikannya dalam Al-Qur’an:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.“ (QS. Luqman: 14)

Dia rela berbagi darah, kalsium, bahkan nyawa agar kita bisa menghirup udara dunia. Dia bertaruh nyawa di ambang maut demi tangis pertama kita. Allah menegaskan lagi dalam ayat yang lain:

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا

“Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Saudaraku…

Mungkin hari ini engkau sudah menjadi orang hebat. Jabatanmu tinggi, hartamu melimpah, bicaramu didengar banyak orang. Namun ingatlah, di mata ibumu, engkau tetaplah anak kecil yang dulu pernah menangis di tengah malam karena haus, dan dia, dengan mata yang merah karena kantuk, terbangun tanpa keluh untuk mendekapmu.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟

Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”

قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوكَ.

Beliau menjawab:
‘Ibumu.’

Ia bertanya lagi:
‘Kemudian siapa?’

Beliau menjawab:
‘Ibumu.’

Ia bertanya lagi:
‘Kemudian siapa?’

Beliau menjawab:
‘Ibumu.’

Ia bertanya lagi:
‘Kemudian siapa?’

Beliau menjawab:
‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari, no. 5971 dan Muslim, no. 2548)

Jika banyak orang merasa senang dengan kehadiranmu, jika banyak yang merasakan manfaat dari kedermawananmu, jika banyak yang terhibur oleh candamu…

maka demi Allah, ibumu adalah orang yang paling berhak mendapatkan semua itu, bahkan lebih dari siapa pun.

Ikhwatal Iman…

Mari kita jujur pada diri sendiri di pagi yang fitri ini. Berapa kali kita membuat hatinya teriris karena ucapan dan sikap kita? Berapa kali kita lebih mendahulukan urusan dunia, hobi, bahkan teman-teman kita, sementara ibu kita menunggu di rumah dengan ponsel di genggaman, berharap anaknya menelepon hanya untuk sekadar bertanya kabar?

Lihatlah wajahnya yang mulai menua. Lihatlah tangannya yang dulu kokoh menggendongmu, kini mulai bergetar.

Ia rela lapar demi kenyangmu.
Ia rela haus demi hilang dahagamu.
Ia rela terjaga agar kau terlelap dalam tidurmu.
Ia rela hidup seadanya untuk menopang kesenanganmu.
Ia rela berhutang hanya untuk menyambung hidupmu!

Dia tidak butuh emas permata darimu. Dia hanya butuh waktu. Dia hanya rindu mendengar suaramu yang dulu selalu memanggil namanya saat kau ketakutan.

Berapa banyak dari kita yang hari ini merayakan Idul Fitri, namun rumahnya terasa hampa. Mereka yang ibunya sudah berada di alam lain, kini hanya bisa memandang gundukan tanah yang dingin. Mereka rindu ingin meminta maaf, namun lisan ibu sudah membisu. Mereka ingin mencium tangannya, namun tangan itu sudah tekubur.

Maka, bagi kita yang masih Allah berikan anugerah dengan keberadaan ibunya, demi Allah,

“Kembalilah ke pelukannya!”

Jangan biarkan kesombongan atau kesibukan menghalangimu untuk bersimpuh di kakinya hari ini. Surga tidak berada di tempat yang jauh, surga ada di balik ridha wanita yang kau panggil “Ibu”.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ، فَقَالَ: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.

Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu ia meminta izin untuk berjihad.
Beliau bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”

Ia menjawab: “Ya.”

Beliau bersabda: “Maka pada keduanya itulah engkau berjihad (bersungguh-sungguh berbakti kepada keduanya).” (HR. Bukhari, no. 3004 dan Muslim, no. 2549)

Dalam hadits di atas, Nabi ﷺ mengungkapkan berbakti kepada orang tua dengan istilah “jihad”. Ini isyarat yang dalam, bahwa jalan berbakti bukanlah jalan yang selalu mudah.

Seorang anak dituntut untuk terus mengingat kebaikan orang tuanya, melupakan kekhilafan dan kekurangannya, memilih kata-kata terbaik saat berbicara dan menasihati, serta tidak membandingkan orang tuanya dengan orang tua orang lain.

Semua itu tidak ringan…
semua itu menuntut kesabaran, kelapangan hati, dan perjuangan yang terus-menerus.

Itulah jihad.

فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.

“Maka pada keduanya itulah engkau berjihad (bersungguh-sungguh berbakti kepada keduanya).” (HR. Bukhari, no. 3004 dan Muslim, no. 2549)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي بَلَّغَنَا مَوَاسِمَ ٱلْخَيْرَاتِ، وَأَعَادَ عَلَيْنَا ٱلْأَيَّامَ بِٱلْبَرَكَاتِ، وَفَتَحَ لَنَا أَبْوَابَ ٱلتَّوْبَةِ بَعْدَ ٱلزَّلَّاتِ، وَجَعَلَ فِي بِرِّ ٱلْوَالِدَيْنِ رِفْعَةَ ٱلدَّرَجَاتِ وَمَحْوَ ٱلسَّيِّئَاتِ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، قَرَنَ شُكْرَهُ بِشُكْرِ ٱلْوَالِدَيْنِ، وَأَمَرَ بِٱلْإِحْسَانِ إِلَيْهِمَا فِي كُلِّ حِينٍ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَبَرُّ ٱلنَّاسِ قَلْبًا، وَأَصْدَقُهُمْ وُدًّا، وَأَعْظَمُهُمْ إِحْسَانًا، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…

Jika ibu adalah samudra kasih sayang, maka ayah adalah gunung tempat kita bersandar. Jika ibu mengajarkan kita tentang kelembutan, maka ayah mengajarkan kita tentang ketangguhan.
Ayah kita mungkin jarang bicara. Dia jarang menunjukkan air mata. Namun perhatikanlah telapak tangannya yang kasar karena lelah mencarikan nafkah halal agar kita bisa sekolah, agar kita bisa makan enak, agar kita bisa berdiri tegak seperti sekarang. Ayah memendam lelahnya dalam diam, ia menelan pahitnya kehidupan agar anaknya hanya merasakan manisnya.

Sungguh sangat besar hak kedua orang tua untuk kita tunaikan dengan penuh bakti. Sampai-sampai Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan kewajiban berbakti kepada mereka langsung setelah perintah bertauhid kepada-Nya, sebagai isyarat betapa agung dan tingginya kedudukan mereka dalam Islam.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (QS. Al-Isra’: 23-24)

Jamaah Shalat Id yang dirahmati Allah…

Di hari yang suci ini, jangan biarkan matahari terbenam sebelum kita membersihkan diri dari dosa kepada orang tua.

Bagi yang masih memiliki orang tua: Pulanglah. Temui mereka. Peluk mereka dengan erat. Bisikkan di telinganya, “Ibu, Ayah, maafkan anakmu yang belum bisa membahagiakanmu. Maafkan lisanku yang kasar. Maafkan aku yang jarang mengunjungimu.”

Bagi yang orang tuanya telah tiada: Jangan biarkan mereka kesepian di alam kubur. Kirimkan hadiah terbaik berupa doa anak shalih. Sedekahkanlah harta atas nama mereka. Jadilah manusia bermanfaat agar mereka bangga di sisi Allah melihat amal jariyah darimu

Mari kita tundukkan kepala sejenak. Bayangkan wajah mereka. Bayangkan keringat ayah dan air mata ibu. Mari kita mengetuk pintu langit dengan doa yang tulus.

أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهُ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمِنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.

Ya Allah, di hari raya yang penuh rahmat ini, kami datang kepada-Mu membawa segunung dosa, terutama dosa kami kepada kedua orang tua kami.

Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Tawwab, Ya Ghafur…
Ampunilah segala khilaf kami kepada ayah dan ibu kami. Ampunilah lisan kami yang pernah menyakiti hati mereka. Ampunilah sikap kami yang meremehkan nasihat mereka.

Ya Allah, muliakanlah ibu kami. Beliau yang telah meminjamkan rahimnya untuk kami, yang memberikan darahnya untuk kami konsumsi selama di kandungan, yang memberikan air susunya untuk kekuatan kami. Berikanlah dia kesehatan, ketenangan hati, dan kebahagiaan abadi.

Jika dia telah wafat, ya Allah… terangi kuburnya dengan cahaya-Mu. Jadikanlah kuburnya taman-taman surga. Limpahkanlah ampunan untuk mereka, dan tinggikanlah derajat mereka.

Ya Allah, muliakanlah ayah kami. Sosok yang letih bekerja demi suapan nasi kami. Yang pundaknya memikul beban berat demi masa depan kami. Balaslah setiap tetes keringatnya dengan istana di surga-Mu.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

“Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, serta sayangilah mereka karena mereka telah mendidik kami di waktu kecil.”

Ya Allah, jangan biarkan kami keluar dari tempat ini kecuali Engkau telah melembutkan hati kami untuk berbakti.

Jadikanlah kami anak-anak yang menjadi penyejuk mata bagi mereka di dunia dan syafaat bagi mereka di akhirat.

Ya Allah, satukanlah kami kembali bersama mereka di surga Firdaus-Mu. Tanpa hisab dan tanpa adzab. Sebagaimana Engkau kumpulkan kami di dunia, janganlah Engkau pisahkan kami di akhirat karena dosa-dosa kami.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

وَأَقْبِلُوا عَلَى بَعْضِكُمْ مُهَنِّئِينَ، تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ أَجْمَعِينَ.

Back to top button