Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ عَلَى السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى الْعَطَاءِ وَالِابْتِلَاءِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، قَضَى بِالْعَدْلِ وَالْحِكْمَةِ، وَابْتَلَى لِيُظْهِرَ الصِّدْقَ وَالصَّبْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَكْرَمَ الْخَلْقِ صَبْرًا، وَأَعْظَمَهُمْ تَسْلِيمًا لِأَمْرِ رَبِّهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…
Dari mimbar yang mulia ini, khatib kembali mengingatkan diri sendiri dan segenap jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena takwa merupakan kunci keberuntungan di dunia dan akhirat.
وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 189)
Sidang Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…
Di hari-hari ini, air bukan sekadar mengalir di sungai dan parit, tetapi telah meluap memasuki rumah-rumah, menenggelamkan harta, memisahkan manusia dari kenyamanan hidup yang selama ini terasa aman. Banjir yang melanda saudara-saudara kita di berbagai wilayah Sumatra bukan hanya peristiwa alam yang disaksikan oleh mata, tetapi ujian besar yang mengetuk hati, menggugah iman, dan memanggil kesadaran kita sebagai hamba Allah.
Musibah bukanlah sekadar kisah tentang kehilangan, tetapi pelajaran tentang kepemilikan; bukan hanya tentang air yang naik, tetapi tentang hati yang diuji: apakah ia naik dengan kesabaran, atau tenggelam dalam keluh kesah. Di saat seperti inilah seorang mukmin diajak berhenti sejenak, menundukkan hati, dan bertanya kepada dirinya: apa yang Allah kehendaki dari peristiwa ini?
Karena sesungguhnya, tidak ada satu pun musibah yang turun sia-sia, dan tidak ada ujian yang Allah turunkan kecuali mengandung hikmah, bagi hati yang mau merenung, dan bagi jiwa yang mau kembali kepada Rabb-nya.
إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ
“Sungguh, Dialah Yang Mahabijaksana, (selalu ada hikmah di setiap perbuatan dan kehendak-Nya), Maha Mengetahui (mana yang terbaik untuk hamba-Nya.” (QS. Ad-Dzariyat: 30)
Ummatal Islam..
Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah berfirman:
وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”) (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah: 155–156)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ:
﴿إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾ [البقرة: ١٥٦]،
اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا،
إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا.
“Tidak ada seorang Muslim pun yang ditimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan apa yang diperintahkan Allah kepadanya: ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantikanlah untukku yang lebih baik darinya”, melainkan Allah akan memberinya pahala dalam musibahnya itu, dan Allah akan mengganti untuknya yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim, no. 918)
Kalimat agung “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” ini Ma’asyiral Muslimin, mengandung pengobatan langsung dari Allah dan Rasul-Nya bagi hati-hati yang sedang terluka oleh musibah. Ia adalah obat yang paling dalam maknanya, paling kuat pengaruhnya, dan paling bermanfaat bagi seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat.
Di dalamnya terkandung dua keyakinan besar yang apabila benar-benar diresapi, akan menenangkan jiwa dan meringankan beban musibah.
Pertama, hendaknya seorang hamba meyakini sepenuh hati bahwa dirinya, keluarganya, hartanya, rumahnya, dan seluruh yang ia miliki hakikatnya adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua itu hanyalah titipan. Allah mempercayakannya kepada kita untuk sementara waktu. Maka ketika Allah mengambil kembali titipan-Nya, itu tidak lain seperti pemilik yang mengambil kembali barang yang ia pinjamkan.
Lebih dari itu, manusia sendiri berasal dari ketiadaan dan akan kembali kepada ketiadaan dunia. Kita bukan yang menciptakan harta itu, bukan pula yang mampu menjaganya dari segala bencana. Kita hanyalah hamba yang diberi amanah dan diperintah untuk mengelolanya sesuai kehendak Pemilik yang sejati.
Kedua, seorang hamba harus menyadari bahwa tempat kembali yang sesungguhnya adalah kepada Allah, Rabb-nya Yang Maha Benar. Cepat atau lambat, dunia ini pasti kita tinggalkan. Kita akan menghadap Allah sendirian, tanpa rumah, tanpa harta, tanpa keluarga, sebagaimana saat pertama kali diciptakan. Yang menyertai hanyalah amal: kebaikan dan keburukan.
Jika demikian hakikat awal dan akhir hidup manusia, lalu mengapa hati terlalu larut dalam kesedihan atas apa yang hilang? Dan mengapa terlalu berlebihan dalam kegembiraan atas apa yang dimiliki? Merenungi asal dan tujuan hidup inilah, salah satu obat paling ampuh saat musibah datang.
Ikhwatal Iman…
Salah satu penawar musibah juga adalah keyakinan yang teguh bahwa apa yang menimpa kita tidak mungkin meleset, dan apa yang luput dari kita tidak mungkin mengenai kita. Allah Ta‘ala berfirman:
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”
لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ
“Agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput darimu dan tidak terlalu bergembira atas apa yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 22–23)
Ayat ini, bagi siapa yang merenungkannya, adalah obat dan kesembuhan bagi hati yang terluka oleh musibah.
Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…
Orang yang tertimpa musibah hendaknya kembali membuka Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ. Di sana ia akan dapati bahwa Allah telah menyiapkan, bagi orang yang sabar dan ridha, balasan yang jauh lebih besar daripada apa yang hilang. Bahkan, seandainya Allah menghendaki, musibah itu bisa jauh lebih berat daripada yang terjadi sekarang.
Di antara hal yang paling menenangkan bagi orang yang tertimpa musibah adalah menyadari bahwa ia tidak sendirian. Padamkan panasnya duka dengan melihat kenyataan bahwa di setiap kampung, setiap kota, bahkan hampir setiap rumah, ada orang yang diuji. Ada yang diuji sekali, ada yang berkali-kali. Ujian itu terus berputar hingga mengenai semua orang, tanpa kecuali. Bila ia menoleh ke kanan, ia melihat penderitaan; bila menoleh ke kiri, ia melihat kesedihan.
Terlebih lagi jika dia mencoba membandingkan antara nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung jumlahnya dengan musibah yang menimpanya yang tidak disukainya, niscaya jumlah musibah itu tidak ada bandingannya dengan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan.
Dikisahkan bahwa Dzulqarnain, ketika sakit keras menjelang wafat, menulis surat kepada ibunya. Ia memintanya menyiapkan makanan dan mengundang banyak orang, namun melarang siapa pun yang pernah tertimpa musibah untuk memakannya. Ketika ternyata tidak seorang pun yang makan, sang ibu memahami pesan putranya: bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar terbebas dari musibah. Ia pun berkata, “Engkau telah menasihatiku, dan aku pun mengambil pelajaran darinya.” (Lihat: ats-Tsabat ‘indal Mamat 1/91)
Jika orang yang tertimpa musibah menyadari bahwa seluruh manusia sedang diuji—entah dengan kehilangan yang dicintai atau dengan datangnya hal yang dibenci—maka ia akan paham bahwa kegembiraan dunia hanyalah seperti mimpi yang singkat, atau bayangan yang cepat berlalu. Ia sering membuat tertawa sesaat, lalu membuat menangis berkepanjangan; memberi nikmat sebentar, lalu mencabutnya lama.
Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
لِكُلِّ فَرْحَةٍ تَرْحَةٌ، وَمَا مُلِئَ بَيْتٌ فَرَحًا إِلَّا مُلِئَ تَرَحًا
“Setiap kegembiraan pasti diikuti kesedihan.”
Ibnu Sirin berkata,
مَا كَانَ ضِحْكٌ قَطُّ إِلَّا كَانَ بَعْدَهُ بُكَاءٌ
“Tidak pernah ada tawa, kecuali setelahnya ada tangisan.”
Maka ketahuilah, wahai saudara-saudaraku yang sedang diuji oleh banjir dan kehilangan, bahwa kerugian yang sesungguhnya bukanlah hilangnya harta atau rumah, tetapi hilangnya pahala sabar dan ridha.
Karena bagi orang-orang yang mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un”, Allah menjanjikan:
أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ
“Mereka itulah yang memperoleh keberkahan dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Baqarah: 157)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Bentuk penghambaan seorang hamba ketika ditimpa musibah ada tiga tingkatan: pertama, ia bersabar menghadapinya. Tingkatan yang lebih tinggi adalah ridha terhadap musibah tersebut. Dan yang paling tinggi di atas keduanya adalah bersyukur atas musibah itu.
Mensyukuri musibah bisa dilakukan apabila cinta kepada Allah telah benar-benar menguasai hatinya, sehingga ia yakin bahwa pilihan Allah selalu yang terbaik untuknya; bahwa Allah memperlakukannya dengan kebaikan, kelembutan, dan kasih sayang melalui musibah itu, meskipun secara naluri ia tidak menyukai musibah tersebut.” (Al-Fawaid, hlm. 163)
Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu’minin…
Semoga Allah menguatkan hati kita semua, mengganti apa yang hilang dengan kebaikan yang lebih besar, dan menjadikan musibah ini jalan menuju ampunan, rahmat, dan derajat yang lebih tinggi di sisi-Nya.
Musibah yang kita saksikan hari ini akan berlalu, sebagaimana musibah-musibah sebelumnya. Namun yang paling menentukan bukanlah seberapa besar air yang meluap, melainkan bagaimana hati kita menyikapinya. Apakah musibah ini mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan kita dari-Nya.
Sesungguhnya, Allah tidak menurunkan musibah untuk membinasakan hamba-Nya, tetapi untuk menyadarkan; tidak untuk memutus harapan, tetapi untuk menghidupkan iman; tidak untuk merendahkan, tetapi untuk mengangkat derajat orang-orang yang sabar dan kembali kepada-Nya.
Maka berbahagialah orang yang diuji lalu bersabar, yang tertimpa musibah lalu tunduk dan ridha, yang kehilangan dunia namun memperoleh kedekatan dengan Allah. Karena apa yang diambil oleh Allah pasti akan diganti, dan apa yang disabarkan karena Allah tidak akan pernah disia-siakan.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنْ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْعَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْبَلَاءَ سُلَّمَ الِاصْطِفَاءِ، وَرَبَطَ الْفَرَجَ بِحُسْنِ الصَّبْرِ وَالرِّضَا، نَحْمَدُهُ حَمْدَ مَنْ عَلِمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ، وَمَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، يُدَاوِلُ الْأَيَّامَ بَيْنَ النَّاسِ ابْتِلَاءً وَتَمْحِيصًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الصَّابِرِينَ، وَإِمَامُ الْمُتَوَكِّلِينَ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ:
فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ؛ فَإِنَّهَا وَصِيَّةُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، كَمَا قَالَ تَعَالَى:
﴿وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ﴾.
ثُمَّ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهُ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمِنِّكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًاً مُطْمَئِنًا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْمَعْ
كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ ارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنْ إِخْوَانِنَا فِي سُومَطْرَا،
اللَّهُمَّ خَفِّفْ عَنْهُمُ الْمِحَنَ،
وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ،
وَاخْلُفْهُمْ خَيْرًا فِيمَا فَقَدُوا.
اللَّهُمَّ مَنْ فَقَدَ بَيْتًا فَأْوِهِ،
وَمَنْ فَقَدَ مَالًا فَارْزُقْهُ،
وَمَنْ فَقَدَ أَمْنًا فَأَمِّنْهُ،
وَمَنْ فَقَدَ عَافِيَةً فَاشْفِهِ وَعَافِهِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَا أَصَابَهُمْ تَكْفِيرًا لِلذُّنُوبِ،
وَرَفْعًا لِلدَّرَجَاتِ،
وَسَبَبًا لِقُرْبِهِمْ مِنْكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا،
وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا،
وَاجْعَلِ الْآخِرَةَ هِيَ دَارَنَا وَقَرَارَنَا.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا،
وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً،
إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى،
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ،
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ،
وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
(Disarikan dari berbagai literasi: Tasliyat ahlil Mashaib, ats-Tsabat ‘indal Mamat, al-Fawaid, al-Wasail al-Mufidah, dan lain sebagainya)



