Ada orang yang rela mengantre berjam-jam demi melihat idolanya. Menabung berbulan-bulan demi membeli tiket. Membayar mahal, menahan lapar, menghadapi kerumunan, bahkan bersabar menghadapi berbagai kesulitan. Semua dilakukan dengan penuh semangat, sebab ada sesuatu yang begitu mereka cintai dan tunggu-tunggu.
Terlepas dari isi liriknya, para ulama telah membahas keharaman alat-alat musik dalam kitab-kitab fikih mereka. Apalagi jika musik tersebut disertai lirik yang mengajak kepada kefasikan, mempertontonkan aurat, atau membangkitkan syahwat. Hal-hal semacam ini semakin menambah sisi kemungkarannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
Sungguh, akan ada di antara umatku sejumlah kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamar, dan alat-alat musik. (HR. Bukhari, no. 5590)
Penyebutan alat-alat musik dalam hadits bersama dengan zina, khamr dan perkara-perkara haram lainnya menunjukkan keharaman alat musik. (Lihat: Majmu‘ Al-Fatawa, 11/535)
Apabila musik disertai penampilan penyanyi perempuan yang bersolek, mempertontonkan aurat, serta suara dan gaya yang menggoda, bertambah pula perkara-perkara yang harus diwaspadai oleh seorang muslim.
Tidak berhenti pada apa yang didengar dan dilihat. Ketika hiburan itu dikemas dalam sebuah konser besar, bahayanya semakin besar.
Bersabar Untuk Idola
Ketika pengumuman konser seorang penyanyi dirilis, sebagian penggemarnya sudah mulai sibuk membicarakannya. Ada yang menghitung hari, menyisihkan uang, berburu tiket, dan terus mengikuti kabar terbaru. Hari-hari terasa panjang karena menunggu saat idolanya tampil.
Ketika hari yang dinanti tiba, kesabaran mereka kembali diuji.
Mereka rela berangkat berjam-jam lebih awal, mengantre panjang untuk masuk, berdesakan bersama ribuan orang, menghadapi mahalnya makanan dan minuman, serta menghabiskan waktu untuk menunggu pertunjukan dimulai.
Jika konser berlangsung selama empat jam, belum termasuk perjalanan, antrean masuk, dan kepadatan saat pulang, waktu yang tersita bisa sangat panjang.
Lalu, bagaimana dengan shalat Maghrib? Bagaimana jika waktu Isya pun tiba ketika mereka masih berada di tengah kerumunan?
Tentu, kami tidak mengatakan dengan pasti bahwa setiap orang yang menghadiri konser pasti meninggalkan shalat. Namun, ketika seseorang mengetahui bahwa aktivitas yang hendak dilakukannya berisiko membuatnya melalaikan shalat, ia semestinya berhenti sejenak dan mengevaluasi pilihannya.
Sungguh menyedihkan apabila seseorang mampu bersabar berjam-jam demi menyaksikan penampilan manusia yang fasik, tetapi tidak mampu menyisihkan beberapa menit untuk memenuhi panggilan Rabb-nya.
Padahal, yang memanggilnya adalah Allah, Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Lembut. Allah-lah yang memberinya rezeki, kesehatan, keluarga, tempat tinggal, dan berbagai kenikmatan yang selama ini ia rasakan. Allah pula yang senantiasa memberinya kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَانطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ
“Para pemuka mereka pergi seraya berkata, ‘Pergilah kalian dan tetaplah bersabar dalam mempertahankan sesembahan kalian! Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang dikehendaki.’” (QS. Shad: 6)
Ayat ini berbicara tentang para pemuka kaum musyrik yang mengajak kaumnya untuk tetap teguh bersabar dalam mempertahankan sesembahan mereka ketika mendengar dakwah tauhid Rasulullah ﷺ. (Lihat: Tafsir Ibni Katsir 7/53)
Di zaman sekarang, seseorang mungkin rela mengorbankan waktu, tenaga, harta, bahkan kewajiban agamanya demi sosok yang dikaguminya. Ia menempatkan jadwal konser sebagai prioritas, tetapi panggilan shalat justru dinomorduakan.
Ketika kecintaan kepada seorang idola mengalahkan ketaatan kepada Allah, bukankah ini tanda bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam hati?
Sosok yang dikagumi itu belum tentu mengenal dirinya, mengetahui kesedihannya, atau mengetahui perjuangannya secara pribadi. Sementara Allah mengetahui keadaan hamba-Nya, mendengar doanya, dan melimpahkan nikmat kepadanya setiap saat.
Lalu, mengapa perhatian manusia yang terbatas itu bisa terasa begitu berharga, sedangkan perintah Allah justru terasa begitu mudah diabaikan?
Allah Ta’ala menjelaskan tentang orang-orang yang memberikan kecintaan yang sangat besar kepada selain-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan bagi-Nya. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, mereka lebih kuat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Ayat ini menjelaskan bahaya kecintaan yang menandingi kecintaan kepada Allah. Adapun bagi seorang mukmin, kecintaan kepada Allah harus menjadi kecintaan tertinggi, yang mengarahkan dan mengendalikan kecintaan-kecintaan lainnya.
Allah kemudian berfirman:
إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ
“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti, mereka melihat azab, dan segala hubungan di antara mereka terputus.” (QS. Al-Baqarah: 166)
Bayangkan, pada hari ketika manusia sangat membutuhkan keselamatan, orang yang dahulu begitu dicintai dan diikuti ternyata tidak mampu menyelamatkan para pengikutnya. Hubungan yang dahulu terasa begitu istimewa terputus. Kekaguman yang dahulu memenuhi hati tidak lagi mendatangkan manfaat.
Lalu Allah berfirman:
وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا ۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ ۖ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ
“Orang-orang yang mengikuti berkata, Sekiranya kami mendapat kesempatan kembali ke dunia, niscaya kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka sebagai penyesalan bagi mereka. Mereka tidak akan keluar dari neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:
“Orang-orang yang dahulu diikuti berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti mereka. Terputuslah ikatan-ikatan yang dahulu terjalin di antara mereka ketika di dunia, karena ikatan tersebut terjalin bukan karena Allah, tidak berdasarkan perintah Allah, dan bergantung pada kebatilan yang tidak memiliki hakikat.
Akibatnya, lenyaplah amal-amal mereka dan sirnalah keadaan mereka.” (Lihat: Taisirul Karim al-Mannan hlm. 79)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Jika engkau ingin mengetahui musibah keterputusan dan kehinaan terhalang dari Allah yang menimpamu, lihatlah siapa yang telah memperbudak hatimu, menggerakkan anggota badanmu, dan memenuhi relung batinmu.
Ke mana hatimu bermalam ketika engkau membaringkan tubuhmu? Ke mana ia terbang ketika engkau terbangun dari tidurmu?
Itulah sesuatu yang menjadi sesembahan dan tuhanmu.
Kelak, ketika terdengar seruan pada hari perjumpaan dengan Allah, Hendaklah setiap orang pergi bersama sesuatu yang dahulu ia sembah, engkau pun akan pergi bersamanya, siapa pun itu.” (Lihat: Madarij As-Salikin, 4/269)
Perhatikanlah pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ke mana hati kita pergi ketika hendak tidur? Apa yang paling memenuhi pikiran ketika bangun? Apa yang paling kita nantikan? Demi apa kita rela mengorbankan waktu dan tenaga?
Konser akan selesai. Sorak-sorai akan mereda. Lampu-lampu panggung akan dipadamkan. Orang-orang akan pulang, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Tetapi, bagaimana jika selama mengejar kesenangan itu kita justru meremehkan shalat, membiasakan diri dengan kemaksiatan, dan membiarkan hati semakin jauh dari Allah?
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Pembatas antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi no. 2621, Nasa’i, no. 463, Ibnu Majah, no. 22987)
Jangan sampai kita begitu takut kehabisan tiket, tetapi tidak merasa takut kehilangan kesempatan menunaikan shalat pada waktunya.
Jangan sampai kita begitu bersemangat menyambut penampilan seorang penyanyi, tetapi berat melangkahkan kaki menuju masjid.
Dan jangan sampai kita rela bersabar menghadapi segala kesulitan demi kesenangan sesaat, tetapi tidak sabar menahan diri dari perkara yang Allah haramkan.
Ibnul Qayyim rahimahullah bersenandung:
هَرَبُوا مِنَ الرِّقِّ الَّذِي خُلِقُوا لَهُ •• فَبُلُوا بِرِقِّ النَّفْسِ وَالشَّيْطَانِ
“Mereka lari dari penghambaan yang menjadi tujuan penciptaan mereka, tetapi akhirnya terjerumus ke dalam perbudakan hawa nafsu dan setan.” (Lihat: al-Kafiyah asy-Syafiyah, hlm. 259)
Betapa tepat ungkapan ini untuk direnungkan. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, tetapi sebagian justru merasa terbebani oleh penghambaan kepada-Nya. Mereka ingin bebas mengikuti keinginan sendiri, padahal kebebasan tanpa kendali dapat menyeret seseorang menjadi budak hawa nafsunya.
Semoga Allah menjadikan kecintaan terbesar kita adalah kecintaan kepada-Nya, menjadikan ketaatan sebagai sesuatu yang kita rindukan, dan menjaga hati kita agar tidak diperbudak oleh hawa nafsu.
Tim Shahihfiqih, 26 Oktober 2026 M / 14 Jumadal Ula 1448 H



