Hari ini kita menyaksikan sebuah pemandangan yang sepintas menggembirakan: majelis-majelis ilmu ramai dihadiri, kitab-kitab tebal ditamatkan satu demi satu, sanad-sanad dikejar, dan forum-forum diskusi fikih serta akidah bertebaran di media sosial. Semangat menuntut ilmu tampak menyala.
Namun, jika kita jujur menelaah lebih dalam, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: kebersihan hati dan kualitas ubudiyyah.
Banyak pelajar sibuk memenuhi kepalanya dengan materi, tetapi lupa memeriksa apa yang terjadi pada hatinya. Ilmu terus bertambah, tetapi kekhusyukan justru menyusut. Hafalan semakin banyak, tetapi rasa takut kepada Allah semakin tipis.
Akibatnya, ilmu yang dipelajari tidak terserap dengan baik karena wadah yang menampungnya—yaitu hati—tidak berada dalam kondisi yang semestinya. Ilmu masuk, tetapi tidak menetap. Dihafal, tetapi tidak membekas. Dipahami, tetapi tidak mengubah perilaku.
Ilmu dan Petunjuk Adalah Buah dari Takwa
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Anfal: 29)
Allah Ta’ala juga berfirman:
يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ
“…niscaya Dia memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmat-Nya dan menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan cahaya itu kalian berjalan.” (QS. Al-Hadid: 28)
Bahkan dalam ayat yang berbicara tentang muamalah, Allah Ta’ala menutupnya dengan menyebut pengajaran dari Allah sebagai buah dari ketakwaan:
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ
“Bertakwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajari kalian.” (QS. Al-Baqarah: 282)
Tiga ayat ini menunjukkan satu pola yang sangat penting: furqan untuk membedakan antara yang hak dan batil, cahaya untuk berjalan di tengah kegelapan syubhat dan syahwat, serta ilmu, semuanya berkaitan erat dengan takwa, bukan semata-mata dengan banyaknya kitab yang ditamatkan.
Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Yusuf ‘alaihissalam:
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Dan ketika dia telah dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Yusuf: 22)
Perhatikan bagaimana Yusuf ‘alaihissalam mendapatkan hikmah dan ilmu sebagai bentuk balasan atas ihsan yang beliau miliki.
Ihsan bukan sekadar banyaknya amal lahiriah. Ia adalah kualitas penghambaan kepada Allah yang membuat seseorang senantiasa merasa diawasi oleh-Nya, baik ketika berada di tengah manusia maupun ketika sendirian.
Inilah yang dijelaskan Rasulullah ﷺ ketika mendefinisikan ihsan:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim, no. 8)
Jika demikian, maka fondasi ilmu bukan sekadar kecerdasan, banyaknya bacaan, atau ketekunan menelaah kitab. Fondasinya adalah kebersihan hati dan konsistensi takwa.
Tanpa fondasi ini, ilmu bisa berubah menjadi beban, bukan cahaya.
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ.
“Al-Qur’an adalah hujah yang membela untukmu atau justru menjadi hujah yang memberatkanmu.” (HR. Muslim, no. 223)
Salah Prioritas: Sibuk pada yang Kurang Penting, Lalai dari yang Utama
Ada bentuk kelalaian lain yang sering tidak disadari: salah menentukan prioritas dalam belajar.
Tidak sedikit pelajar yang mencurahkan waktu bertahun-tahun, menamatkan kitab demi kitab, untuk mendalami ilmu-ilmu yang kedudukannya sekunder—bahkan ada yang menghabiskan energi besar dalam perdebatan istilah, ilmu mantiq, atau rincian khilaf fikih—sementara usaha yang setara tidak pernah ia curahkan untuk mentadabburi Al-Qur’an.
Ini merupakan salah satu jebakan prioritas yang dapat digunakan setan untuk menjauhkan seorang pelajar dari Kalamullah dan sabda Rasul-Nya ﷺ.
Setan tidak selalu menjauhkan seseorang dari ilmu. Terkadang ia justru membuat seseorang tampak sangat sibuk dengan ilmu, tetapi mengarahkan kesibukan itu menjauh dari pusat ilmu: Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Padahal, seandainya seseorang meluangkan waktu satu atau dua jam setiap hari, dengan keikhlasan karena Allah, lalu ia mengisinya dengan perkara-perkara yang benar-benar ia butuhkan, mempelajari perkara yang wajib atas dirinya, meresapi makna dzikir-dzikir dalam shalat, menghayati dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur dan berbagai dzikir harian, mempelajari nama dan sifat Allah, mentadabburi Al-Qur’an serta menggali rahasia dan hikmah yang terkandung di dalamnya, mempelajari keteladanan Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan generasi setelah mereka, insyaallah hasilnya akan jauh lebih membekas.
Sebab tujuan belajar bukanlah sekadar menumpuk kitab yang telah ditamatkan, tetapi membentuk seorang hamba yang semakin mengenal Rabb-nya, semakin benar ibadahnya, semakin baik akhlaknya, dan semakin dekat kepada Allah.
Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya.
Seseorang merasa gelisah jika belum menamatkan kitab ini dan itu. Ia merasa tertinggal ketika melihat orang lain telah menyelesaikan kitab tertentu. Akhirnya, niatnya perlahan bergeser: dari mencari ridha Allah menjadi mengejar status telah “menamatkan” sesuatu.
Di sinilah seorang pelajar perlu berhenti sejenak dan bertanya: Untuk apa sebenarnya aku belajar?
Ilmu yang Diniatkan untuk Selain Allah
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat keras:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya digunakan untuk mencari wajah Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan keuntungan dunia, niscaya ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3664, Ibnu Majah no. 252, dan Ahmad no. 8457; dengan sanad yang shahih)
Ini adalah ancaman yang sangat keras.
Ilmu yang semestinya menjadi jalan menuju surga justru dapat menjadi sebab seseorang terhalang dari surga apabila niatnya rusak sejak awal.
Maka persoalannya bukan hanya: “Berapa banyak yang sudah kita pelajari?”
Tetapi juga: “Untuk siapa kita mempelajarinya?”
Mari Jujur kepada Diri Sendiri
Sebagai pelajar, mari sejenak berhenti dan bertanya kepada diri sendiri.
Seberapa khusyuk shalat kita, padahal shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab?
Berapa banyak kehormatan sesama pelajar yang telah kita jatuhkan, baik melalui lisan, tulisan, maupun sekadar prasangka dalam hati, hanya demi merasa lebih unggul dalam ilmu?
Bagaimana hubungan kita dengan Al-Qur’an jika dibandingkan dengan perhatian kita terhadap ucapan manusia?
Berapa banyak waktu yang kita habiskan membaca kitab-kitab yang pembahasannya jauh dari Al-Qur’an, sementara tadabbur terhadap Kalamullah justru menjadi bagian yang tersisihkan?
Dan yang paling penting: apakah ilmu yang kita pelajari telah membuat kita semakin takut kepada Allah, semakin khusyuk dalam ibadah, semakin lembut kepada sesama, dan semakin tunduk kepada kebenaran?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat hati kita tergugah, maka semoga itu adalah awal yang baik.
Sebab ilmu yang sejati bukan hanya ilmu yang bertambah di kepala, tetapi ilmu yang menghidupkan hati, memperbaiki amal, dan mendekatkan seorang hamba kepada Allah.
Semoga Allah membersihkan hati kita, meluruskan niat kita dalam menuntut ilmu, memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, serta menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai hujah bagi kita, bukan hujah yang memberatkan kita.
Aamiin.
Tim Shahihfiqih, 26 Agustus 2026 M / 12 Rabi’ul Awal 1448 H





