Sa’d bin Abi Waqqash: Panglima Besar yang Memilih Hidup Tanpa Hingar-Bingar

Seorang Sahabat, Salah Satu dari Sepuluh yang Dijamin Surga

Di antara sepuluh sahabat yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah ﷺ bahwa mereka termasuk penghuni surga, ada satu nama yang terkadang kurang mendapat sorotan dibandingkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum: Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.

Beliau adalah Abu Ishaq Sa‘d bin Abi Waqqash Malik bin Uhaib bin ‘Abdi Manaf bin Zuhrah al-Qurasyi az-Zuhri, salah seorang sahabat yang terdahulu masuk Islam, seorang mujahid yang pertama kali melepaskan anak panah di jalan Allah, dan sahabat yang didoakan Rasulullah ﷺ agar dikabulkan doanya.

Sa‘d juga termasuk dalam sepuluh sahabat yang disebutkan Rasulullah ﷺ sebagai penghuni surga:

عَشَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ: أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ.

“Sepuluh orang berada di dalam surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman dan Ali, az-Zubair, Thalhah, Abdurrahman, Abu Ubaidah, dan Sa‘d bin Abi Waqqash.” (HR. Tirmidzi no. 3748)

Namun, keistimewaan Sa‘d bukan hanya pada kedudukannya sebagai salah satu penghuni surga.

Ia adalah seorang pemanah ulung, panglima besar, dan orang yang doanya dikenal mustajab. Rasulullah ﷺ pernah mendoakannya:

اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لِسَعْدٍ إِذَا دَعَاكَ.

“Ya Allah, kabulkanlah doa Sa‘d apabila ia berdoa kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3751).

Akan tetapi, ada sisi lain dari kehidupan Sa‘d yang tidak kalah mengagumkan: ketika memiliki kemampuan untuk berada di tengah panggung kekuasaan, ia justru memilih menjauh dari fitnah dan hiruk-pikuk manusia.

Kekhawatiran Seorang Sahabat yang Sakit Keras

Kisah ini bermula pada tahun Haji Wada‘, tahun terakhir kehidupan Rasulullah ﷺ.

Saat itu Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu jatuh sakit keras di Makkah. Ia bahkan mengira akan meninggal di tempat tersebut, padahal ia adalah seorang sahabat yang telah berhijrah dari Makkah.

Rasulullah ﷺ menjenguknya.

Sa‘d berkata bahwa dirinya memiliki harta yang cukup banyak, sedangkan ahli warisnya hanya seorang anak perempuan. Ia kemudian meminta izin untuk menyedekahkan dua pertiga hartanya. Rasulullah ﷺ tidak mengizinkan. Ia kemudian menawarkan separuh hartanya, tetapi kembali tidak diizinkan. Akhirnya ia bertanya tentang sepertiga hartanya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ، إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ، خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ، وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى اللُّقْمَةَ تَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِكَ.

“Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka meminta-minta kepada manusia. Tidaklah engkau mengeluarkan suatu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala karenanya, bahkan sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari no. 3936; Muslim).

Kemudian Sa‘d bertanya:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أُخَلَّفُ بَعْدَ أَصْحَابِي؟

“Wahai Rasulullah, apakah aku akan tetap hidup setelah para sahabatku?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ، فَتَعْمَلَ عَمَلًا تَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا ازْدَدْتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً، وَلَعَلَّكَ تُخَلَّفُ حَتَّى يَنْتَفِعَ بِكَ أَقْوَامٌ وَيَضُرَّ بِكَ آخَرُونَ.

“Sesungguhnya engkau tidak akan ditinggalkan (hidup begitu saja), lalu engkau melakukan suatu amalan yang dengannya engkau mengharap wajah Allah, melainkan dengannya derajat dan kedudukanmu akan bertambah. Dan boleh jadi engkau akan tetap hidup sehingga sebagian manusia mendapatkan manfaat darimu dan sebagian lainnya mendapatkan mudarat karenamu.” (HR. Bukhari no. 3936; Muslim).

Ucapan Nabi ﷺ tersebut kelak terbukti.

Sa‘d tidak wafat pada tahun itu. Ia justru hidup hingga masa yang panjang dan memainkan peranan besar dalam sejarah Islam.

Panglima Qadisiyyah

Sa‘d bukanlah seorang yang lemah atau tidak memiliki kemampuan untuk tampil di hadapan manusia.

Sebaliknya, ia adalah salah seorang tokoh militer terpenting pada masa Khulafa’ur Rasyidin.

Pada masa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Sa‘d dipercaya memimpin pasukan kaum muslimin menghadapi Persia. Ia kemudian menjadi panglima dalam Perang Qadisiyyah, salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah futuhat Islam.

Qadisiyyah terjadi di wilayah Irak, dan Sa‘d menjadi panglima pasukan kaum muslimin. Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting dalam runtuhnya kekuatan Persia di Irak.

(Lihat kisah selengkapnya di: al-Bidayah wa An-Nihayah, Kejadian tahun 15 H)

Dengan demikian, Sa‘d adalah gambaran seorang yang memiliki kemampuan, keberanian, kedudukan, dan pengaruh yang sangat besar.

Namun justru di sinilah pelajaran pentingnya.

Besarnya kemampuan tidak selalu berarti seseorang harus mengejar panggung kekuasaan.

Pemanah Pertama di Jalan Allah

Sa‘d juga memiliki keutamaan yang sangat istimewa dalam sejarah jihad Islam.

Ia berkata:

إِنِّي لَأَوَّلُ الْعَرَبِ رَمَى بِسَهْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.

“Sesungguhnya aku adalah orang Arab pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah.” (HR Bukhari, no. 6453 dan Muslim, no. 2966)

Namun Sa‘d Memilih Menjauh dari Fitnah Kekuasaan

Di sinilah kisah Sa‘d menjadi semakin menarik.

Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, umat Islam memasuki masa fitnah dan perselisihan politik yang sangat berat.

Sa‘d memilih untuk tidak terlibat dalam pertikaian tersebut.

Ia tidak melakukannya karena tidak memiliki kemampuan.

Ia pernah menjadi panglima besar.

Ia memiliki pengalaman.

Ia memiliki pengaruh.

Ia bahkan termasuk sahabat yang mendapat kabar gembira masuk surga.

Namun ketika manusia mulai saling berebut kekuasaan, Sa‘d memilih menjauh.

Diriwayatkan dari Amir bin Sa‘d bahwa ayahnya, Sa‘d bin Abi Waqqash, sedang berada di tengah unta-untanya. Kemudian datanglah putranya, Umar bin Sa‘d.

Ketika melihatnya, Sa‘d berkata:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الرَّاكِبِ.

“Aku berlindung kepada Allah dari keburukan penunggang ini.”

Setelah Umar turun, ia berkata kepada ayahnya:

أَنَزَلْتَ فِي إِبِلِكَ وَغَنَمِكَ، وَتَرَكْتَ النَّاسَ يَتَنَازَعُونَ الْمُلْكَ بَيْنَهُمْ؟

“Engkau sibuk dengan unta dan kambingmu, sementara engkau meninggalkan manusia yang sedang saling berebut kekuasaan?”

Sa‘d kemudian memukul dadanya dan berkata:

اسْكُتْ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ.

“Diamlah! Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan tersembunyi (tidak suka menonjolkan diri).’” (HR. Muslim no. 2965)

Perhatikan baik-baik kalimat Sa‘d:

اسْكُتْ.

“Diamlah.”

Seakan-akan ia ingin mengatakan kepada anaknya:

Tidak semua perselisihan harus kita masuki.

Tidak semua perebutan kekuasaan harus kita ikuti.

Tidak semua panggung harus kita naiki.

Apa Makna “Al-Ghaniyy” dan “Al-Khafiyy”?

Rasulullah ﷺ menyebut tiga sifat yang dicintai Allah:

التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ

At-Taqiyy: orang yang bertakwa.

Ia menjaga hubungannya dengan Allah, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Al-Ghaniyy: orang yang kaya atau merasa cukup.

Kekayaan yang dimaksud bukan semata-mata banyaknya harta, tetapi kekayaan jiwa dan merasa cukup dari apa yang Allah berikan, sehingga seseorang tidak menjadikan apa yang ada di tangan manusia sebagai sesuatu yang harus ia kejar.

Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari, no. 6446 dan Muslim, no. 1051)

Sedangkan al-khafiyy adalah orang yang tidak menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian manusia. Ia tidak haus popularitas, tidak gemar menonjolkan diri, dan tidak menjadikan ketenaran sebagai tujuan hidup.

An-Nawawi berkata:

الْخَامِلُ الْمُنْقَطِعُ إِلَى الْعِبَادَةِ وَالِاشْتِغَالُ بِأُمُورِ نَفْسِهِ

“Orang yang tidak banyak dikenal, yang menyendiri untuk beribadah dan sibuk mengurus urusan dirinya sendiri.” (Lihat: Syarah Shahih Muslim, 18/100)

Hadits ini menunjukkan keutamaan seorang hamba yang tidak bergantung kepada manusia, tidak mengejar popularitas, dan lebih mengutamakan ketakwaan serta kecukupan jiwa.

Sa‘d Bukan Orang yang Anti-Kekuasaan

Namun ada satu hal yang penting untuk dipahami.

Kisah Sa‘d bukan berarti bahwa Islam mencela kepemimpinan atau bahwa orang saleh harus selalu menjauh dari jabatan.

Sa‘d sendiri pernah menerima amanah besar.

Ia menjadi panglima.

Ia memimpin pasukan.

Ia berjuang dan berperan dalam kemenangan kaum muslimin.

Yang ia jauhi adalah fitnah perebutan kekuasaan dan pertikaian yang tidak jelas ujungnya.

Ini adalah pelajaran penting:

Jabatan boleh menjadi amanah. Tetapi ambisi terhadap jabatan bisa menjadi fitnah.

Seorang muslim hendaknya membedakan antara menerima amanah ketika dibutuhkan dengan mengejar kekuasaan karena ambisi pribadi.

Sa‘d pernah tampil ketika umat membutuhkan kemampuannya.

Namun ketika muncul perselisihan dan perebutan kekuasaan, ia memilih menjaga keselamatan agama dan dirinya.

Pelajaran Besar dari Sa‘d bin Abi Waqqash

Kisah Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu mengajarkan sebuah keseimbangan yang sangat indah.

Ia bukan orang yang tidak mampu.

Ia justru sangat mampu.

Ia bukan orang yang tidak dikenal.

Ia adalah salah satu sahabat paling mulia.

Ia bukan orang yang tidak memiliki pengaruh.

Ia pernah menjadi panglima pasukan kaum muslimin.

Ia bukan orang yang takut tampil ketika kebenaran membutuhkan keberanian.

Namun ia juga bukan orang yang haus panggung.

Ketika manusia mulai saling berebut kekuasaan, ia memilih menjauh.

Ketika orang lain melihat kesunyian sebagai sebuah kerugian, Sa‘d justru mengingat sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ.

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan tidak suka menonjolkan diri.” (HR. Muslim no. 2965).

Inilah pelajaran yang sangat relevan bagi kehidupan kita.

Di zaman ketika manusia berlomba-lomba mencari perhatian, membangun citra, mengejar pengikut, dan ingin selalu terlihat, kisah Sa‘d mengingatkan kita bahwa tidak semua kebaikan harus terlihat oleh manusia.

Ada kalanya seseorang justru menjadi lebih mulia ketika ia tidak dikenal.

Ada kalanya menjaga diri dari sebuah panggung lebih baik daripada mendapatkan tempat di dalamnya.

Dan ada kalanya meninggalkan perebutan dunia bukanlah tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa seseorang telah memiliki ghina an-nafs—kekayaan jiwa.

Sa‘d bin Abi Waqqash adalah panglima besar.

Namun pada akhirnya, salah satu kalimat yang paling menggambarkan keagungan dirinya bukanlah tentang pasukan yang ia pimpin, wilayah yang ia taklukkan, atau kedudukan yang pernah ia miliki.

Melainkan tentang pilihannya untuk menjauh dari fitnah dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.

Karena kebesaran seorang hamba tidak selalu diukur dari seberapa tinggi ia terlihat di mata manusia, tetapi dari seberapa tinggi kedudukannya di sisi Allah.

Wallahu a’lam.

Tim Shahihfiqih, 24 Agustus 2026 M / 10 Rabi’ul Awal 1448 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *