Contoh Cara Mentadabburi Al-Qur’an: Mengulik Adab Memuliakan Tamu dari Surat Adz-Dzariyat: 24-30

Banyak dari kita membaca Al-Qur’an setiap hari, tetapi jarang berhenti sejenak untuk benar-benar merenungkan setiap kata di dalamnya. Padahal, satu ayat saja bisa menyimpan lautan makna jika kita mau menggali lebih dalam.

Tadabbur bukan sekadar membaca terjemahan. Tadabbur adalah berusaha memahami: mengapa Allah memilih kata ini dan bukan kata itu? Mengapa susunan kalimatnya demikian? Apa pelajaran yang terkandung di balik pilihan kata tersebut?

Untuk memberi gambaran nyata, mari kita coba mentadabburi salah satu kisah indah dalam Al-Qur’an: kisah tamu Nabi Ibrahim ﷺ yang terdapat dalam Surah Adz-Dzariyat.

Ayat yang Akan Kita Renungkan

Allah Ta’ala berfirman:

هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ ۝٢٤ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ ۝٢٥ فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ ۝٢٦ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ ۝٢٧ فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۖ قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ ۝٢٨ فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ ۝٢٩ قَالُوا كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ ۝٣٠

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu para malaikat) yang dimuliakan? Ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, ‘Salam,’ Ibrahim menjawab, ‘Salam,’ (seraya berkata), ‘Kalian adalah orang-orang yang tidak dikenal.’ Lalu dia diam-diam pergi menemui keluarganya, kemudian dibawanya anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Dia berkata, ‘Tidakkah kalian makan?’ Kemudian dia merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, ‘Janganlah kamu takut,’ dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim. Kemudian istrinya datang sambil berteriak, lalu menepuk wajahnya sendiri seraya berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan tua yang mandul.’ Mereka berkata, ‘Demikianlah Rabbmu berfirman. Sesungguhnya Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.”’ (QS. Adz-Dzariyat: 24-30)

Sekilas, seseorang mungkin membaca ayat-ayat ini lalu berhenti pada kesimpulan sederhana: malaikat datang sebagai tamu, Nabi Ibrahim ﷺ menjamu mereka, kemudian mereka menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran seorang anak.

Namun jika kita membaca dengan lebih perlahan dan merenungkan setiap pilihan katanya, kita akan menemukan banyak pelajaran yang sangat indah.

1. Gaya Bertanya yang Membangkitkan Perhatian

Allah membuka kisah ini dengan firman-Nya:

هَلْ أَتَىٰكَ

“Sudahkah sampai kepadamu…?”

Ini bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Allah tentu mengetahui apa yang telah dan belum diketahui Nabi ﷺ. Gaya pertanyaan seperti ini digunakan untuk menarik perhatian pendengar, seakan-akan dikatakan:

“Perhatikan baik-baik. Ada kisah penting yang akan disampaikan kepadamu.”

Di dalamnya juga terdapat isyarat tentang kenabian Muhammad ﷺ. Kisah ini merupakan berita tentang perkara gaib yang tidak mungkin diketahui oleh beliau dan kaumnya melalui pengalaman biasa. Pengetahuan tentangnya datang melalui wahyu.

Seakan-akan Allah mengatakan: “Apakah kisah ini telah sampai kepadamu dari selain Kami?”

2. Satu Kata yang Mengandung Pujian

Allah menyebut para tamu Ibrahim dengan firman-Nya:

ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ

“Para tamu Ibrahim yang dimuliakan.”

Kata الْمُكْرَمِينَ mengandung makna yang indah.

Di antara maknanya: mereka adalah tamu-tamu yang dimuliakan oleh Ibrahim ﷺ. Ini menunjukkan kemuliaan dan penghormatan beliau kepada tamunya.

Di sisi lain, mereka sendiri adalah makhluk Allah yang mulia, yaitu para malaikat.

Dengan demikian, satu kata ini mengandung pujian dari dua sisi: Ibrahim ﷺ memuliakan tamunya, dan tamunya pun merupakan makhluk yang mulia.

3. Balasan Salam yang Lebih Baik

Para malaikat mengucapkan:

سَلَامًا

Sedangkan Ibrahim ﷺ menjawab:

سَلَامٌ

Ada sisi kebahasaan yang menarik dalam perbedaan tersebut. Lafaz سَلَامًا datang dalam bentuk manshub, sedangkan سَلَامٌ dalam bentuk marfu’.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa jawaban Ibrahim ﷺ menunjukkan salam yang lebih sempurna dan lebih baik.

Hal ini sejalan dengan firman Allah:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang sepadan.” (QS. An-Nisa: 86)

Jadi, bahkan dalam kisah singkat ini kita menemukan contoh adab membalas salam dengan cara yang baik.

4. Adab Menyampaikan Sesuatu yang Kurang Menyenangkan

Ibrahim ﷺ merasa asing terhadap para tamunya. Namun beliau tidak mengatakan secara langsung, “Kalian adalah orang asing.”

Beliau berkata:

قَوْمٌ مُنْكَرُونَ

“Kaum yang tidak dikenal.”

Ungkapan ini lebih halus. Beliau menyampaikan keadaan tanpa menunjuk langsung kepada orang-orang yang ada di hadapannya.

Ini mengajarkan sebuah adab penting: ketika hendak menyampaikan sesuatu yang mungkin kurang menyenangkan, gunakan ungkapan yang tidak mempermalukan atau menyinggung secara langsung.

Hal serupa juga sering dilakukan Nabi Muhammad ﷺ ketika ingin mengingkari sebuah kesalahan. Beliau tidak selalu menyebut nama pelakunya di hadapan orang banyak, tetapi mengatakan:

“Mengapa ada orang-orang yang melakukan demikian dan demikian?”

Dengan demikian, kesalahan dikoreksi tanpa harus mempermalukan pelakunya.

5. Kesempurnaan Adab Menjamu Tamu

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan cara Ibrahim ﷺ menjamu para tamunya. Hampir setiap kata mengandung pelajaran.

فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ

“Lalu dia diam-diam pergi menemui keluarganya.”

Kata رَاغَ mengandung makna pergi secara cepat dan tidak mencolok.

Ini menunjukkan bahwa Ibrahim ﷺ segera menyiapkan jamuan, tanpa menunda-nunda tamunya.

Beliau juga melakukannya secara diam-diam, sehingga para tamu tidak merasa sungkan atau terbebani karena melihat tuan rumah sibuk menyiapkan makanan untuk mereka.

إِلَىٰ أَهْلِهِ

“Menuju keluarganya.”

Makanan tersebut sudah tersedia di rumahnya. Beliau tidak perlu mencari-cari makanan ke tempat lain atau menyusahkan orang lain.

Ini menggambarkan kesiapan dan kedermawanan beliau dalam menjamu tamu.

فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ

“Lalu dia membawa anak sapi yang gemuk.”

Perhatikan pilihan makanannya: عِجْلٍ سَمِينٍ, anak sapi yang gemuk.

Bukan makanan seadanya, tetapi sesuatu yang baik dan layak untuk disuguhkan kepada tamu.

Hal ini menunjukkan kemurahan hati Ibrahim ﷺ: ketika menjamu tamu, beliau memilihkan yang terbaik yang dimilikinya.

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ

“Lalu dihidangkannya kepada mereka.”

Beliau mendekatkan makanan itu langsung kepada para tamunya.

Tamu tidak dibiarkan mengambil atau mencari sendiri. Ini merupakan bagian dari kesempurnaan pelayanan kepada tamu.

قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

“Beliau berkata, ‘Tidakkah kalian makan?’”

Perhatikan kelembutan ungkapannya.

Beliau tidak berkata dengan nada memerintah, “Makanlah!”

Beliau menggunakan ungkapan yang menunjukkan perhatian dan kelembutan: “Tidakkah kalian makan?”

Dari beberapa kata yang singkat ini saja, kita dapat melihat betapa indahnya adab Ibrahim ﷺ dalam menjamu tamu: segera menyiapkan makanan, tidak menyusahkan tamu, memberikan yang terbaik, melayani secara langsung, dan menawarkan makanan dengan santun.

6. Penutup dengan Nama Allah yang Sangat Tepat

Kisah ini ditutup dengan firman Allah:

إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ

“Sesungguhnya Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Mengapa dua nama ini yang disebutkan?

Karena kisah ini berkaitan dengan sesuatu yang secara kebiasaan manusia tampak sangat sulit: kelahiran seorang anak dari pasangan yang telah lanjut usia, sementara sang istri juga disebut mandul.

Namun bagi Allah, tidak ada sesuatu pun yang sulit.

Allah Al-‘Alim, Yang Maha Mengetahui. Dia mengetahui segala sesuatu, termasuk sebab dan hikmah di balik setiap ketetapan-Nya.

Allah Al-Hakim, Yang Mahabijaksana. Apa pun yang Dia tetapkan terjadi dengan ilmu dan hikmah, bukan secara sia-sia atau kebetulan.

Maka ketika kita melihat sesuatu yang tampaknya mustahil menurut kebiasaan manusia, jangan sampai keterbatasan pengetahuan kita membuat kita meragukan kekuasaan Allah.

Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui dan menetapkan segala sesuatu dengan hikmah-Nya.

Apa yang Bisa Kita Ambil?

Dari satu kisah yang hanya terdiri dari beberapa ayat ini, kita menemukan begitu banyak pelajaran:
– bagaimana Al-Qur’an membangkitkan perhatian pembacanya;
– bagaimana satu kata dapat mengandung pujian yang luas;
– bagaimana membalas salam dengan cara yang baik;
– bagaimana menyampaikan sesuatu yang kurang menyenangkan dengan ungkapan yang halus;
– bagaimana memuliakan tamu;
– bagaimana memilih dan menyajikan makanan terbaik;
– bagaimana menawarkan makanan dengan penuh perhatian;
– dan bagaimana nama-nama Allah pada akhir ayat berkaitan erat dengan kandungan kisah.

Semua itu tersimpan dalam susunan kata yang sangat ringkas.

Inilah salah satu hakikat tadabbur: memperlambat bacaan, memperhatikan pilihan kata, bertanya “mengapa Allah menggunakan kata ini?”, lalu berusaha menangkap pesan yang terkandung di baliknya.

Semakin sering kita melatih diri untuk membaca Al-Qur’an dengan cara seperti ini, semakin kita merasakan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks yang dibaca dan diselesaikan, tetapi petunjuk yang hidup, penuh hikmah, dan berbicara kepada hati yang mau mendengarkan.

Wallahu a’lam.

(Sumber: Ar-Risalah at-Tabukiyyah, hlm. 71-84, dengan penyederhanaan)

Tim Shahihfiqih, 25 Agustus 2026 M / 11 Rabi’ul Awal 1448 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *